Tongkat – Tongkat Islam yang Hilang


        Sahabat muslimin seperjuangan yang dirahmati Allah, dalam menjalani kehidupan yang telah mengalami kemajuan teknologi, tentunya orang – orang juga harus bisa beradaptasi. Adaptasi yang dilakukan dalam menyelaraskan kehidupan seseorang dengan kemajuan teknologi tentu harus cepat dan menyesuaikan dengan waktu yang terus berjalan semakin cepat. Hal yang paling penting dalam penyesuaian manusia dalam era modernisasi adalah ilmu. Ilmu ini adalah dasar dari suatu perkembangan, apapun itu. Kemajuan teknologi, sistem pendidikan, ekonomi, semua adalah bentuk dari perkembangan dan penerapan ilmu yang telah ada.
         Kemajuan dan perkembangan ilmu yang pesat hingga saat ini, sebenarnya sudah dimulai sejak abad pertengahan. Dalam kemajuan ilmu tersebut, ternyata kaum muslimin memiliki peran yang besar. Puncak dari perkembangan ilmu tersebut adalah pada masa Daulah Abasiyyah atau sering disebut The Golden Age. Pada masa ini, sudah banyak ilmu – ilmu yang berkembang terkait dengan ilmu pengetahuan umum seperti sosiologi, astronomi, ilmu arsitektur, musik, ilmu alam, matematika, dan lain – lain. Perkembangan ilmu pengetahuan sebenarnya sudah terjadi pada masa Daulah Umayyah, tetapi belum sesignifikan pada daulah Abbasiyah, setelah Daulah Umayyah lengser.
         Sejarah telah mencatat banyak ilmuwan – ilmuwan Muslim yang memiliki andil yang besar dalam ilmu pengetahuan. Bahkan, dalam buku “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia”, tertulis bahwa setiap apa yang terlihat di Barat mengukuhkan bahwa Barat telah berhutang kepada peradaban Arab Islam (Max Fantigo, 1953:803). Salah satu ilmuwan yang menyumbang karyanya di bidang kedokteran dan kimia adalah Abu Al-Qasim Az-Zahrawi atau biasa disebut Abulcasis oleh orang – orang Barat. Beliau adalah pakar penyakit telinga juga penyakit kulit. Peran yang luar biasa mulia adalah ketika karyanya, At-Ta’rif liman Ajaza an At-Ta’lif, menjadi rujukan di universitas – universitas Eropa. Sungguh sumbangan yang besar untuk dunia kedokteran.
         Dibidang ilmu kimia, terlahir pula ilmuwan dari kaum muslimin dengan nama yang hampir sama, yaitu Abu Al-Qasim Abbas ibn Farnas. Beliau telah mengembangkan ilmu kimia murni dan ilmu kimia terapan yang memiliki keterkaitan dengan farmasi maupun kedokteran. Sedangkan bahasa dan sastra Arab juga terjadi perkembangan dengan adanya ilmu nahwu dan sharaf oleh Abu Bakar Muhammad ibn Umar.
         Perkembangan peradaban dan ilmu yang paling signifikan terjadi pada masa kekuasaan Daulah Abbasiyyah. Hal ini disebabkan karena dorongan dari khalifah Abbasiyyah agar muslimin bersemangat untuk mencari ilmu. Pada masa kekuasaan Harun Ar-Rasyid dan Al-Ma’mun, para penemu dan pencari ilmu diberi hadiah. Hal inilah yang memicu semangat muslimin dalam mencari ilmu maupun menerjemahkan buku ilmu pengetahuan dari Yunani.
         Lagi – lagi di bidang kedokteran, Muslimin berhasil menunjukkan kebolehannya. Abu Ali Al-Husein ibnu Abdullah Ibnu Sina, atau biasa disebut oleh orang – orang barat Avicenna, dinobatkan sebagai Father of Doctors (bapak kedokteran). Karya tulisnya yang terkenal, Al-Qanun Fit Tibb, menurut DR Robinson, buku ini sangat berpengaruh dan dijadikan literatur wajib pada fakultas Kedokteran di berbagai Universitas di Asia dan Eropa selama 6 abad. Dan selama dinasti Han di Cina, buku ini menjadi standar karya-karya medis Cina. Buku ini diterjemahkan ke berbagai bahasa, antara lain kedalam bahasa inggris dengan judul Canon of Medicine.
Untuk para pelajar, khususnya pelajar sekolah menengah, mungkin merasakan betapa susahnya matematika yang dipelajari di sekolah. Namun, kita akan lebih kesusahan lagi apabila angka – angka arab tidak diperkenalkan oleh Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi. Apakah kita akan belajar menghitung dengan angka romawi? Apakah kita dapat menghitung integral dengan mudah menggunakan angka romawi? Begitu juga bila tidak ditemukannya angka nol oleh beliau. Tentu artikel ini tidak akan ada, karena artikel ini pun dibuat menggunakan komputer, sedangkan bahasa komputer kebanyakan berbentuk kode biner yang hanya mengenal angka 1 dan 0.
Sahabat muslimin seperjuangan yang dirahmati Allah, itulah beberapa cendekiawan yang telah lahir dan memberikan sumbangan yang hingga kini pun tetap ada bahkan telah mengakar dalam kehidupan kita. Dalam buku “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia”, ditulis bahwa Dokter Piere Borman menyebutkan bahwa keberhasilan umat Islam mewarnai dunia dalam segala bidang keilmuan dan kebudayaan sangat jelas terlihat tanpa dapat disangkal lagi. Bahkan keberhasilan kaum muslimin dalam bidang kedokteran, tidak seorang pun mampu mengingkarinya. Karena ini pulalah, saya terdorong untuk menulis buku berjudul, “Kedokteran Islam pada Abad Pertengahan”.
Keberhasilan dan kejayaan umat Islam pada abad pertengahan menunjukkan bahwa Islam sebenarnya bukan kaum yang rendah. Islam adalah kaum yang sudah lebih dulu maju daripada orang – orang Barat. Namun, hal ini tidak diperoleh dari nasib keberuntungan. Bukan karena Eropa adalah pusat peradaban, muslim wajar menjadi cerdas. Bukan. Apa yang mereka dapat, apa yang mereka cari. Segala ilmu yang telah ditemukan oleh para cendekiawan muslim, semuanya berporos pada kitabullah Al-Qur’an.
“... Allah akan meninggikan orang yang beriman diantara kamu dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadillah/58:11). Sekali lagi, yang mendorong mereka untuk mencari ilmu adalah Al-Qur’an. Dalam surat lain, Allah berfirman, “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian siang dan malam, terdapat tanda – tanda bagi orang – orang yang berakal,” (QS.Ali-Imron/3:190). Tentu bagi orang yang ingin mengetahui rahasia dibalik bergantinya siang dan malam, bagaimana penciptaan bumi, langit (ruang angkasa), dan sebagainya, akan berusaha meneliti sekuat tenaga dengan mencari ilmu, entah dengan membaca buku, mengamati, berpikir kritis, dan lain sebagainya. Kaum muslimin yang telah menggoreskan pena sejarahnya di Eropa, membuktikan bahwa mereka mulia karena selalu berdasar pada Al-Qur’an. Maka untuk generasi Muda, kalian tidak akan bisa layaknya cendekiawan terdahulu tanpa Al-Qur’an.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox

@templatesyard