Muhammad bin Idris Asy Syafi'i atau yang umat muslim kenal
sebagai Imam Syafi'i, rela menempuh jalan yang panjang dan berlika-liku demi
ilmu. Dengan sifat tekun dan rajinnya, beliau menuntut ilmu tanpa merasa
terhalangi dengan kesulitannya dalam membeli alat tulis. Imam Syafi'i merupakan
salah satu teladan untuk umat Islam sebagai seorang pejuang ilmu. Beliau tidak
pernah puas akan ilmunya, terus belajar dari Mekkah ke Madinah, sampai akhirnya
menjadi ulama besar di Iraq.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pejuang berarti orang
yang berjuang. Sedangkan berjuang berarti berusaha sekuat tenaga tentang
sesuatu; berusaha penuh dengan kesukaran dan bahaya. Jadi, pejuang ilmu dapat
diartikan sebagai orang yang berusaha sekuat tenaga tentang ilmu.
Siapa sajakah pejuang ilmu?
"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim."(HR Ibnu Majah)
Rasulullah menyampaikan dengan jelas bahwa Allah telah
mewajibkan setiap hamba-Nya untuk menuntut ilmu. Ilmu merupakan pembimbing
manusia dalam melakukan sesuatu. Ilmu merupakan kunci kesuksesan dunia dan
akhirat, membuat hidup manusia lebih
terarah dan teratur. Ilmu merupakan petunjuk keimanan dan beramal, sebagai alat
manusia untuk mendekatkan diri pada Allah. Tanpa adanya ilmu, amal ibadah yang
telah dilakukan hanyalah seperti sebuah pohon yang tidak berbuah atau sia-sia
-tidak akan diterima oleh Allah.
Pejuang ilmu bukan berarti harus menjadi ulama besar seperti
Imam Syafi'i. Beliau hanyalah salah satu bukti janji Allah pada mukmin yang
tidak bosan-bosannya menuntut ilmu.
".. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.." (QS Al-Mujadilah:11)
Menjadi pejuang ilmu berarti kita bersungguh-sungguh dan
lillahi ta'ala dalam mencari, menuntut, menyampaikan, dan mengulang-ulang ilmu
dengan sabar. Menjadi pejuang ilmu berarti kita sedang melaksanakan jihad
fii sabilillah. Tidak perlu dengan angkat senjata, hanya perlu melihat,
mendengarkan, dan menanyakan.
"Mencari ilmu adalah jihad, menuntut ilmu adalah taqwa, menyampaikan ilmu adalah ibadah, dan mengulang-ulang ilmu adalah dzikir." (Imam Al-Ghazali)
"Siapa yang keluar dari rumah untuk menuntut ilmu, maka ia termasuk fiisabilillah hingga pulang kembali." (HR Imam Tirmidzi)
Pertanyaan yang sering muncul adalah ilmu apakah yang harus
dominan para mukmin pelajari? Ilmu dunia ataukah ilmu akhirat?
"Carilah negeri akhirat pada nikmat yang diberikan Allah kepadamu, tapi jangan kamu lupakan bagianmu dari dunia." (QS Al Qashash:77)
Dari firman Allah di atas, Ibnu Katsir menafsirkan bahwa
para mukmin seharusnya menggunakan nikmat dari-Nya yang berupa harta benda untuk
mendekatkan diri pada-Nya, agar mendapat
pahala di dunia dan akhirat.
Jadi, ilmu dunia pun perlu dipelajari sebagai jembatan para
mukmin untuk semakin dekat pada Allah, bukannya disalahgunakan untuk ini dan
itu. Selain disamakan dengan orang yang sedang jihad
fii sabilillah, pejuang ilmu akan diberikan kemuliaan, kemudahan menuju surga,
dan derajat yang tinggi oleh Allah. Para malaikat bersedia meletakkan sayapnya
untuk alas jalan pejuang ilmu, semua makhluk sampai binatangpun memohonkan
ampun untuknya. Dengan melaksanakan kewajiban untuk menuntut ilmu, semua
manfaat yang telah dijanjikan Allah akan datang dengan sendirinya.
Wallahu a'lam.
Ditulis dari beberapa sumber:
- Al-Qur'an (Al-Mujadalah:11 ; Al-Qosos:77)
- https://www.google.co.id/amp/s/blogkutuq.wordpress.com/2016/12/30/kisah-imam-syafii-dalam-menuntut-ilmu/amp/
- https://www.google.co.id/amp/s/kbbi.web.id/juang.html
Ditulis dari beberapa sumber:
- Al-Qur'an (Al-Mujadalah:11 ; Al-Qosos:77)
- https://www.google.co.id/amp/s/blogkutuq.wordpress.com/2016/12/30/kisah-imam-syafii-dalam-menuntut-ilmu/amp/
- https://www.google.co.id/amp/s/kbbi.web.id/juang.html


Tidak ada komentar:
Posting Komentar